Pagi ini terlihat di sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah dan madrasah, semua siswa berseragam coklat. Ada yang dilengkapi dengan dasi dan aksesori seragamnya, ada yang hanya menggunakan seragamnya saja. Bahkan ada sekolah yang berkegiatan luar ruang untuk merayakan hari ulang tahun Gerakan Pramuka. Ya, hari ini, 14 Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka Indonesia. Pada tahun ini, Gerakan Pramuka Indonesia genap berusia 57 tahun.

Penulis ingat ketika masih menginjak usia sekolah, kegiatan Pramuka adalah kegiatan yang menantang. Menantang karena sikap dasar eksplorasi mulai ditumbuhkan dalam setiap kegiatan pramuka. Pastinya kegiatan pramuka dilakukan di luar ruang. Bukan dalam ruangan seperti layaknya kelas. Dan untuk siswa sekolah, format kegiatan luar ruang tersebut hanyalah satu kata, menyenangkan. Siswa tidak lagi harus duduk rapi dengan tangan terlipat di atas meja, metode mengajar classical bukanlah pilihan utama untuk digunakan di kegiatan pramuka. Semua berbaur dalam keriaan bekerja dalam kelompok untuk menemukan solusi atas masalah yang diberikan kakak pembina. Masalah yang dimaksud bisa berbentuk soal memecahkan sandi morse, sandi rumput, tali temali atau simulasi pengobatan pertama. Walaupun masih harus mencontek buku saku Pramuka, hal itu kami rasakan amat menyenangkan.

Belum lagi jika waktu kegiatan perkemahan sabtu minggu (persami) tiba. Rasa bebas dan merdeka menyertai semangat packing untuk kegiatan satu malam itu. Memang impian setiap anak pada kala itu adalah mendapat ijin untuk tidak tidur di rumah, namun ijin dari orang tua sangat sulit diutarakan, karena jawabannya sudah hampir pasti, tidak boleh. Namun karena persami adalah salah satu acara sekolah, ini seperti menjawab impian kami, tidak tidur di rumah.

Malam itu seperti yang siswa bayangkan, kami tidur di atas jam tidur normal kami. Selama malam itu, kami ditemani dengan kegiatan-kegiatan yang merupakan kegiatan baru bagi kami, memecahkan soal sandi senter, dan sekali lagi, itu menyenangkan. Di bawah langit telanjang kami duduk bersila beralaskan rumput basah embun malam, berkonsentrasi melihat kilatan lampu senter dari kakak pembina yang mewakili titik dan garis yang mengartikan satu kata dan merangkainya menjadi satu kalimat/paragraf. Kelompok yang tercepat memecahkan sandi tersebut mendapatkan previlege untuk tidak perlu memasak sarapan esok pagi. Ah! Terasa amat menyenangkan dan menantang.

Belum lagi ketika kami dikirim mewakili sekolah untuk datang di Jambore Nasional, perasaan senang luar biasa menemani kami. Bayangkan saja, menginap satu malam saja sudah membuat kami senang bukan main, apalagi Jambore Nasional yang mengharuskan para peserta menginap dua malam di kompleks bumi perkemahan Cibubur. Memang pengalaman mengikuti rangkaian kegiatan Pramuka penuh dengan kejutan yang melepaskan sisi liar seorang anak yang tidak didapatkan dalam kelas reguler. Mencari sahabat baru, menyampaikan pendapat, peduli sosial, peduli lingkungan, cinta tanah air dan semangat kebangsaan, itu yang bisa diinternalisasi melalui setiap kegiatan gerakan Pramuka.

Setiap siswa sudah ditanamkan karakter seperti yang telah disebutkan di atas di dalam kelas dan di rumah, namun melalui kegiatan Pramuka, pengetahuan tersebut makin diinternalisasi melalui setiap kegiatan yang dirangkai demi satu tujuan, pengembangan karakter siswa didik. Kami menjadi lebih perhatian terhadap teman-teman kami, baik itu teman dalam satu kelompok maupun teman yang berasal dari kelompok lain. Melalui kegiatan operasi semut sehabis berkegiatan, kami dipaksa untuk peduli terhadap lingkungan. Belum lagi upacara bendera yang menjadi pembuka dan penutup setiap kegiatan Pramuka, dimana didalamnya selalu diselipkan doa sebelum kegiatan dan doa sesudah berkegiatan, membangun semangat kebangsaan dan ketuhanan dalam diri siswa didik.

Sejalan dengan program Presiden Joko Widodo tentang Gerakan Revolusi Mental, pada tahun 2017, pemerintah mengeluarkan Perpres no 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Keberadaan Gerakan Pramuka menjadi sejalan dengan Gerakan Revolusi Mental dan Perpres no 87 tahun 2017 tersebut dalam mengembangkan karakter dengan cara-cara yang menyenangkan dan tidak membosankan. Ditambah lagi dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud) dengan memasukkan kegiatan Pramuka dalam kurikulum 2013 (kurtilas) sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib di sekolah dan madrasah. Sudah sebuah keniscayaan dan pasti bahwa Gerakan Pramuka dibutuhkan untuk mendidik siswa Indonesia  untuk mengembangkan aspek fisik dan psikis siswa diluar pendidikan formal yang kita kenal menekankan perkembangan siswa di aspek kognitifnya.

Berlakunya kegiatan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah dan madrasah ini merupakan sebuah kesempatan bagi Gerakan Pramuka untuk terus berkarya menciptakan pribadi-pribadi pemimpin melalui setiap kegiatannya. Mengacu pada Dasa Dharma Pramuka, proses pengembangan karakter siswa didik bisa terus dilakukan. Menjadi penting untuk direnungi oleh orang tua, pendidik dan aktivis pendidikan untuk bersama meramu kegiatan Gerakan Pramuka menjadi kegiatan yang menjadi flamboyan bagi para peserta siswa.

Selamat Hari Ulang Tahun ke 57 Gerakan Pramuka Indonesia! (adb)