Sambutan Dirjen Kebudayaan dalam pembukaan Kongres Kebudayaan III

Jakarta – Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menyoroti dua pokok penting dari perhelatan akbar Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI). Kedua poin tersebut ialah Strategi Kebudayaan dan Resolusi Kongres. Hilmar menyebutkan, Strategi Kebudayaan akan menghasilkan kebijakan-kebijakan sehingga dapat memperbaiki tata kelola pusat dan daerah.

“Poin keduaialah Resolusi Kongres, yang akan dihadiri sejumlah orang, termasuk dari kalangan anak muda. Kita berharap ada resolusi konkrit dan isinya adalah butir yang segera dapat diresolusi tanpa harus menunggu kebijakan-kebijakan yang akan disusun secara berjenjang setelah Strategi Kebudayaan,” ujar Hilmar Farid saat memberikan sambutan Pra Kongres Kebudayaan III, di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A, Komplek Kemdikbud, Senayan (27/11/2018).

Pra Kongres Kebudayaan yang digelar Ditjenbud ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan di bidang kebudayaan, termasuk para tim perumus di dalamnya. Selain itu, saat KKI 2018 nanti ada 35 forum dari berbagai bidang yang menyumbangkan pokok pikiran dan rekomendasi kepada tim yang menyusun Strategi Kebudayaan, mulai dari masyarakat yang mendalami persoalan cagar budaya, asosiasi permuseuman, pelestari tradisi, seniman pertunjukan dan sebagainya.

“Kita mendapatkan bahan yang cukup dan sekarang ada tim perumus yang melaksanaakan tugas sesuai Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan,” tambahnya.

Di samping  itu, saat ini Direktorat Jenderal Kebudayaan sudah menerima sebanyak 27 Pokok-pokok Pikiran Daerah (PPKD) di tingkat provinsi. Dokumen-dokumen inilah yang menjadi dasar penyusunan Strategi Kebudayaan yang akan ditetapkan dan disahkan pada Desember mendatang. Terkumpulnya dokumen-dokumen ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang sudah dimulai sejak Maret silam. Tentunya melibatkan sekitar 5.000 orang di tingkat kabupaten/kota melalui diskusi dan investigasi di berbagai forum.

“Pergerakannya memang awal terasa sangat berat, sekarang ada 279 kabupaten/kota yang terlibat. Ini usaha bersama yang terbesar yang pernah ada untuk mengumpulkan informasi kekayaan budaya di Indonesia,” tukasnya.

sumber: kemdikbud.go.id