geografis gn tidar

Gunung Tidar (Google Earth)

Tidak banyak daerah di Indonesia dengan gunung yang berdiri nan anggun di tengah kotanya. Salah satunya adalah kota Magelang. Berdiri megah di tengah kota dengan hijau pohon cemara menyelimutinya, Gunung Tidar setinggi 503 meter diatas permukaan laut (mdpl). Gunung ini merupakan kawah Candradimuka bagi para taruna Akademi Militer (Akmil) yang beroperasi di sebelah selatan gunung ini. Gunung ini tidak lepas dari perannya dalam mencetak perwira Sapta Marga.

Nama Tidar merupakan singakatan dari kata “Mati dan Modar”. Pemilihan kata ini melihat dari kondisi Gunung Tidar dahulu yang memang memberikan kesan angker. Dahulu barang siapa yang masuk ke hutan di lereng Gunung Tidar kalau tidak Mati berarti Modar. Ngeri kan?

Tapi sekarang sudah berbeda. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di puncak Gunung Tidar. Jalan setapak yang sudah di paving membuat wisatawan/peziarah tidak perlu bersusah-susah mendaki. Dalam perjalanan menuju puncak Gunung Tidar wisatawan akan disuguhkan wisata ziarah. Wisatawan akan menemui beberapa makam dan di puncak Gunung Tidar wisatawan akan menemui tugu dengan ornamen aksara Jawa, inilah tugu sebagai perlambang bahwa Gunung Tidar merupakan Paku Tanah Jawa.

Paku Tanah Jawa

Mitos Paku Tanah Jawa ini berkembang sejak zaman dahulu. Konon Tanah Jawa (baca: Pulau Jawa) yang dikelilingi lautan ini bagaikan perahu yang mudah oleng diterjang gelombang. Para dewa sebagai pencipta harus membetulkan keadaan Tanah Jawa ini. Mereka berkumpul dan berembug untuk mendapatkan pemecahan atas masalah Tanah Jawa ini. Segala cara yang diputuskan dalam rembug para dewa ini dilakukan, namun belum bisa membuat Tanah Jawa tenang. Hantaman ombak masih membuat Tanah Jawa terombang-ambing dan tidak bisa tenang.

Para dewa akhirnya memutuskan untuk menancapkan paku di tengah Tanah Jawa untuk menjaga ketenangan wilayah ini. Dan jadilah paku tersebut menjadi Gunung Tidar. Dan sejak itu Tanah Jawa menjadi tenang dan tidak lagi terombang ambing.

Simbol dari mitos ini ditandai dengan tugu kecil putih berpagar besi. Inilah yang kemudian dipercaya sebagai simbol Paku Tanah Jawa itu. Di bawah tugu tersebut kadang ditemukan sesajen dan dupa yang mengisyaratkan bahwa Gunung Tidar merupakan salah satu tujuan tetirah atau berziarah. Selain tentunya ada beberapa makam yang ditemukan di situs Gunung Tidar yang menjadi wisata religi menjadi semakin mistis.

Perkembangan Islam di Pulau Jawa

Perkembangan agama Islam di Pulau Jawa tidak terlepas dari peran Sembilan Wali atau dikenal dengan Wali Songo. Tapi jarang ada yang mengetahui peran Syekh Subakir sebagai salah satu dari Wali Songo. Syekh Subakir adalah salah satu Wali yang dikirim pada periode pertama penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Syekh Subakir dikirim oleh khalifah asal Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Mahmud I untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara. Syekh Subakir adalah seorang ulama asal Persia yang memiliki keahlian merukyah, ekologi, meteorologi dan geofisika. Sultan Mahmud I mengirim Syekh Subakir untuk menyelesaikan masalah sulitnya perkembangan agama Islam di Pulau Jawa. Berbekal batu hitam yang sudah dirajah dengan Rajah Aji Kalacakra, Syekh Subakir berangkat ke Tanah Jawa.

Setelah diteliti, penyebabnya adalah fenomena gaib yang menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa ketika itu. Adalah ulah para jin, dedemit dan segala macam makhluk halus lainnya yang menyebabkan sulitnya masyarakat Jawa menerima Islam.

Menjawab permasalahan ini, Syekh Subakir pergi ke pusat Pulau Jawa, Gunung Tidar dan memasang batu Rajah Aji Kalacakra di puncaknya. Dari cerita yang bisa kami kumpulkan, diceritakan bahwa efek dari pemasangan batu Rajah Aji Kalacakra ini merubah kondisi cuaca di Pulau Jawa selama tiga hari dan tiga malam. Batu ini mengalirkan hawa panas ke semua penjuru angin menyebabkan semua roh halus dan roh jahat yang berdiam di sekitar Gunung Tidar lari menyelamatkan diri, bahkan diceritakan ada juga roh halus dan roh jahat yang binasa akibat hawa panas ini.

Menyadari hal ini, raja jin Sabda Palon atau yang dikenal dengan Ki Semar Badranaya sang Danyang tanah Jawa menampakkan diri ke hadapan Syekh Subakir. Saling tanya dan saling jawab antar keduanya berkembang menjadi perdebatan, namun tanpa menemui jalan tengah. Akhirnya kedua tokoh ini diceritakan mengadu kesaktian selama 40 hari dan 40 malam. Menyadari akan segera mengalami kekalahan bahkan bisa binasa, Sabda Palon menawarkan perundingan dengan Syekh Subakir.

Sabda Palon menerima kekalahan dan pergi dari Gunung Tidar dan Syekh Subakir boleh mengajarkan agama Islam di Pulau Jawa, dengan syarat bahwa Syekh Subakir tidak boleh memaksa masyarakat Jawa untuk memeluk Islam. Syarat lain yang diajukan adalah jika berhasil menyebarkan agama Islam, orang Islam boleh berkuasa menjadi raja Islam, namun tidak boleh meninggalkan adat istiadat dan budaya yang sudah ada. Dengan berakhirnya kekuasaan Sabda Palon, perkembangan agama Islam lebih mudah di Pulau Jawa.

Cerita ini memiliki versi lainnya. Batu Rajah Aji Kalacakra dalam versi lain diganti dengan senjata berupa Tombak Kiai Panjang. Mungkin versi ini yang paling pas, karena di situs Gunung Tidar hingga kini ada makam yang dijaga oleh masyarakat sekitar dan dipercaya sebagai makam Tombak Kiai Panjang.

Syekh Subakir menjadi terkenal dan dikagumi diantara pendekar, penganut ilmu gaib dan kanuragan, bangsawan dan masyarakat di Pulau Jawa kala itu. Bahkan terkesan mendewakan karena keberhasilan Syekh Subakir mengusir Sabda Palon. Menyadari hal ini pada tahun 1462 M, Syekh Subakir meninggalkan Nusantara dan kembali ke negara asalnya, Persia. Selanjutnya, posisinya sebagai salah satu wali dalam Wali Songo digantikan oleh yang sekarang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Nah, itu legenda tentang Gunung Tidar yang jadi ikon kota Magelang. Berwisata di Gunung Tidar merupakan salah satu pilihan aktivitas yang menarik. Selain disuguhi lebatnya hutan cemara di Gunung Tidar yang sejuk, wisatawan juga akan disuguhi wisata religi berupa makam para tokoh yang sudah diceritakan di legenda di atas. Belum lagi keindahan alam Indonesia.

Banyak sudah festival atau acara yang diadakan di Gunung Tidar untuk meningkatkan daya tarik situs wisata ini. Salah satu yang diusahakan pemerintah kota Magelang adalah dengan mengadakan acara tahunan Festival Tidar.

Tentang Tidar Heritage Foundation

Tidar Heritage Foundation adalah sebuah yayasan nirlaba yang bekerja untuk melestarikan budaya dan nilai luhur bangsa dan memiliki visi menjalin persaudaraan antar sesama manusia, menjembatani perbedaan untuk terciptanya perdamaian dan keharmonisan. (adm)