bom bali

Monumen Bom Bali

Hari ini 15 tahun silam di malam minggu yang ramai pengunjung, tiga lokasi menjadi sasaran amukan aksi terorisme di Indonesia. Paddy’s Pub, Sari Club dan Kantor Konsulat Amerika Serikat menjadi sasaran peledakan bom bunuh diri dan bom telepon genggam di Bali. Udara malam dipenuhi aura pesta di malam tanggal 12 Oktober 2002. Malam berjalan seperti biasanya di lokasi pesta di Legian itu sebelum semua keriangan dan keriuhan dihentikan oleh suara dua ledakan di dua klub malam yang ramai pengunjung. Bukan hanya Indonesia, dunia berduka hari itu dan beberapa hari berikutnya.

Lokasi ledakan ketiga, di Kantor Konsulat Amerika Serikat, berada jauh dari lokasi dua ledakan sebelumnya. Namun serangkaian ledakan ini menjadi salah satu dari tragedi kemanusiaan yang tidak lepas dari cerita Pulau Dewata dan aksi terorisme di Indonesia. 202 orang tewas malam itu dan ratusan lainnya terluka parah. Itu belum seberapa jika dibanding aspek lain yang terkena dampak dari tragedi itu.

Dari penelusuran yang dilakukan, ada beberapa aspek yang terpengaruh sebagai hasil dari tragedi ini. Aspek ekonomi langsung menjadi pemberitaan, beberapa negara langsung mengeluarkan travel warning ke Indonesia pasca tragedi ini. Sudah barang tentu pariwisata Bali selama beberapa bulan lumpuh. Karena keindahan Bali menjadi salah satu alasan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dengan berkurangnya wisatawan mancanegara sudah bisa dipastikan ekonomi Bali yang sebagian besar berasal dari aspek pariwisata berkurang.

Dari aspek sosial, agama Islam ketiban sial, karena pelaku merupakan bagian dari kelompok teroris berbasis agama Islam. Walaupun kemudian dunia menyadari bahwa bukan Islam yang melakukan ini, tapi oknum yang membawa agama Islam atas nama jihad. Dan yang tidak kalah menyedihkan adalah aspek psikologis. Trauma dan dendam yang dialami oleh korban baik langsung maupun tidak langsung merupakan catatan tersendiri. Sebagai contoh adalah ibu Chusnul karyawan Paddy’s Pubyang menjadi korban luka pada peristiwa itu. Suaminya yang tidak terima ibu Chusnul menjadi korban kekerasan ini berusaha untuk menemui pelaku. Caranya? Sang suami membunuh kemudian menyerahkan diri supaya ditahan dan dipenjara bersama dengan pelaku pengeboman. Rencananya berjalan lancar, pembunuhan dilakukan oleh suami ibu Chusnul, kemudian dia menyerahkan diri ke polisi dan dipenjara. Namun dia dipenjara yang berbeda dengan pelaku pengeboman. Saat itu ibu Chusnul harus kehilangan sandaran ekonominya karena sang suami harus menerima hukumannya membunuh orang lain.

Cerita bu Chusnul dan suaminya menjadi salah satu cerita yang mungkin diderita oleh korban lain. Untuk mengingat kejadian itu, dibangunlah sebuah monumen di ground zero tempat kejadian bom Bali terjadi. Dan hingga kini monumen Bom Bali selalu menjadi pengingat tragedi tersebut. Setiap tahunnya di tanggal ini selalu ada keluarga korban baik itu dari Bali, Indonesia maupun mancanegara yang datang ke monumen ini untuk memperingati tragedi tersebut dan mengenang korban sebagai teman, pacar, suami, istri, anak dan orang tua.

Tragedi ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Long Road to Heaven. Sebagian besar karya-karya yang terkait dengan tragedi ini dimaksudkan untuk mengingat bahwa umat manusia pernah berperilaku kejam melebihi makhluk hidup lain.