ronggowarsito

Ronggowarsito

Pembahasan kali ini penulis ingin berbagi tentang salah satu filsafat Jawa yang tak lekang oleh zaman. Yaa, yang namanya filsafat merupakan salah satu yang menjadi pegangan hidup. Jika bicara tentang filsafat Jawa, tentu dulu dibuat atau dipikirkan agar manusia Jawa menjalani hidupnya dengan prinsip tersebut. Namun seiring berjalannya kehidupan itu sendiri, beberapa filsafat Jawa juga bisa diterapkan dalam berbagai kebudayaan. Nah, langsung saja, filsafat yang ingin dibahas kali ini adalah memayu hayuning bawana. Falsafah ini pertama kali diungkapkan oleh pujangga besar Jawa, Ronggowarsito (1802-1873) seorang pujangga asal Surakarta.

Penulis akan mengartikan setiap kata. Kata memayu merupakan kata kerja dari kata dasar hayu yang artinya cantik, indah atau selamat. Menjadi kata kerja karena di depan kata hayu tadi ditambah imbuhan ma menjadi mamayu yang kemudian melebur menjadi memayu. Nah, kata kerja ini kemudian berarti mempercantik, menambah menjadi ayu dan mengusahakan keselamatan.

Kata kedua, hayuning, sama seperti kata pertama yang berarti cantik, indah dan selamat. Namun di belakang kata hayu ini ditambahkan kata ning yang berarti kata ganti kepunyaan (nya). Jadi dengan kata lain, kata hayuning menunjuk pada kata sifat ayu, cantik, indah dan selamat. Tapi sifat cantik, indah dan selamat milik siapa?

Kata ketiga akan melengkapi rangkaian kalimat tersebut, bawana (dibaca: bawono). Kata bawana berarti dunia atau bumi. Jadi kecantikan, keayuan, keindahan dan keselamatan di frase hayuning adalah milik bumi atau dunia. Makna dari bumi itu sendiri bukan hanya bumi dalam arti lahiriah saja, bukan hanya bumi dilihat dari ekosistem dan lingkungannya. Namun lebih dalam dari itu, falsafah Jawa membagi bumi dalam beberapa tingkatan.

  1. Bawana Alit, atau Bumi Kecil yang merujuk pada individu, pribadi dan keluarga. Ini adalah gambaran dunia kecil setiap manusia.
  2. Bawana Agung atau Bumi Besar yang merujuk pada masyarakat, bangsa, negara dan dunia dalam arti luas. Bumi dalam arti global.
  3. Bawana Langgeng, atau Bumi Abadi yang tak lain adalah dunia akhirat.

Berdasarkan paparan di atas, bisa disimpulkan bahwa falsafah ini dimaknakan sebagai:

  1. Dunia ini sudah diciptakan dalam keadaan ayu, cantik, indah dan selamat. Baik itu Bumi kecil kita di keluarga maupun kondisi setiap pribadi atau individu, bangsa dan negara kita sudah ayu dari sononya. Itu dulu yang harus kita terima dengan segala macam kondisi yang ada.
  2. Tugas setiap manusia adalah untuk menjadikan bumi semakin cantik, ayu dan indah untuk keselamatan dan kenyamanan setiap warganya.

Falsafah Jawa ini tidak hanya berlaku pada masa Ronggowarsito menuliskannya. Namun falsafah ini tidak mengenal waktu. Penemuan-penemuan yang ada hingga saat ini merupakan hasil dari upaya manusia mempercantik dunia yang sudah cantik ini. Dan penulis yakin bahwa akan ada penemuan-penemuan, kebijakan-kebijakan dan aturan-aturan yang akan semakin mempercantik dunia yang sudah semakin cantik ini.

Rahayu!