IMG_20180328_153410_cropped

Sugeng Rawuh

Mencari sebuah tempat yang memberikan dampak mengisi kembali sisi kemanusiaan kita, bukanlah pencarian yang mudah. Tempat ini setidaknya bisa memberikan kesadaran bahwa kehadiran kita disana adalah untuk charging kedirian kita, kondisi dimana kita diarahkan untuk melihat ke dalam diri untuk pencarian mendalam tentang pertanyaan mendasar, “Siapakah Aku?”

Tempat ini setidaknya adalah sebuah tempat yang mengembangkan Konstruksi-Keberadaannya sebagai ruang permenungan tentang subyek kehidupan. Sebuah tempat yang menciptakan ruang keseimbangan antara local wisdom, perilaku manusia dan nilai religius dalam sebuah aktifitas kebudayaan.

Desa Kebangsaan Ilmu Giri adalah salah satu alternatif tempat untuk menemukan pengalaman ini. Sebuah desa yang terletak di perbatasan antara kabupaten Klaten dan Gunung Kidul ini menyambut setiap tamu yang datang dengan pemandangan alam yang sejuk dan suasana yang mendamaikan hati.

HM. Nasruddin Anshoriy Ch (Gus Nas), pimpinan Pesan-Trend Budaya Ilmu Giri menyambut setiap tamu undangan yang akan hadir dalam sebuah acara dengan nama Sugeng Rawuh, sebuah acara dengan tujuan silahturahmi lintas profesi dalam tajuk diskusi kebudayaan. Dihadiri oleh Direktur Sejarah Kemendikbud RI, Ibu Dra. Triana Wulandari, Olivia Zalianty dan komunitas seniman, jalannya diskusi mengalir informal tanpa menggunakan susunan acara.

Yah, mungkin sesuai nama acaranya, Sugeng Rawuh, jadi acara diarahkan agar seperti layaknya keluarga menyambut keluarga lain. Tanpa melihat profesi dan jabatan masing-masing, semua tamu menghormati Gus Nas selaku tuan rumah. Selebihnya para tetamu terlibat dalam obrolan yang ditemani oleh Gus Nas layaknya tuan rumah yang menemani tamunya ngobrol. Ditemani suguhan cemilan dan makan malam olahan lokal dengan cara menyuguhkan yang tidak lepas dari kearifan lokal, menambah kesan bahwa individu-individu yang terlibat di dalamnya juga menghormati kearifan lokal Desa Kebangsaan Ilmu Giri.

Melalui proses inilah semua uneg-uneg dan kegelisahan masing-masing individu tentang manusia dan kehidupan dituangkan. Disambut oleh individu lain yang memiliki pandangan lain, bahkan terkadang ada individu yang memberikan pencerahan atas kegalauan tadi. Proses dialektika berjalan disini dan masing-masing tamu bahkan tuan rumah membawa sintesanya sendiri yang didapat melalui interaksi itu. Pencerahan inilah yang kemudian disadari sebagai proses recharge untuk kembali bergelut dengan kesehariannya.

Sintesa yang dibawa pulang ini bukanlah sebuah solusi atas kegalauan individu, tapi sebuah permenungan baru untuk semakin mendalami makna kemanusiaan melalui aktifitas kebudayaan. Tapi bukan hanya mereka yang memiliki kegalauan saja yang boleh hadir di Desa Kebangsaan ini, sesiapa pun boleh hadir dan jangan khawatir, tetap nanti pulang akan membawa sebuah oleh-oleh dari Desa Kebangsaan, sebuah permenungan.

Bukan sebuah beban yang dibawa pulang, tapi sebuah pekerjaan rumah untuk kembali dibawa atas nama kerinduan ke Desa Kebangsaan Ilmu Giri untuk mendapatkan sintesanya. Sebuah tempat yang menjawab kebutuhan insan manusia untuk selalu kembali ke dirinya.