download-aplikasigratis.blogspot.com

Pendidikan

Saya mendengar cerita ini di salah satu stasiun televisi tadi malam:

“Ada tiga orang anak SD pulang dari sekolah. Mereka bernama Yaklep, Yanes dan Simon. Dalam perjalanan yang memakan waktu tiga jam berjalan kaki, Yaklep mencurahkan perasaannya. Dia bilang kepada dua orang temannya dengan logat yang dia kenal selama ini, “Sa sudah tidak betah lagi pigi sekolah. Ada banyak PR, ada banyak ulangan dan baru tugas lagi. Kapan katong main bola? Sa kalo pagi tuh, su malas sa berangkat pigi sekolah, sudah perjalanan jauh, banyak PR, ulangan, tugas dan belum lagi waktu ujian nanti,” katanya sambil berkhayal menggiring bola seperti pemain sepak bola. Tanpa disadari kedua temannya sudah berjalan jauh di depan tanpa mempedulikan dirinya.

Menyadari dirinya sudah ditinggalkan teman-temannya, Yaklep sudah tidak berniat lagi mencurahkan perasaannya. Alih-alih dia malah berkhayal merayakan gol-nya ke gawang lawan seperti pemain sepak bola yang sering dia lihat di televisi kepala desa. Saat lewat di tepi sungai, sayup-sayup dia mendengar ada suara meminta tolong di tengah suara gemericik air sungai.

“Tolooong,” kata suara itu

Perlahan karena penasaran, Yaklep pigi ke sumber suara. Dan benar, dia melihat pak guru melambaikan tangan sambil berteriak minta tolong karena nyaris tenggelam. Menyadari ada Yaklep, muridnya, pak guru semakin keras berteriak penuh harap,

“Yaklep, tolong dulu pak guru ini, kah?” teriaknya.

Melihat pak guru sedang meminta tolong dan berusaha agar tidak tenggelam, Yaklep pun berteriak memanggil Yanes dan Simon yang sudah jauh di depan.

Begini teriaknya,

“Woiiiii, teman-temaaan, esok kita libur, karena pak guru tenggelam.”

Cerita ini adalah mop yang berasal dari daerah Timur Indonesia, terutama Papua. Mop merupakan cerita karangan yang mengambil dari fenomena keseharian masyarakat Papua. Kalau kita mencari di mesin pencari, Mop Papua, maka kita akan disuguhkan dengan banyak cerita yang membuat kita tersenyum dan bahkan tertawa. Apalagi jika kita bisa membayangkan mereka bercerita dengan logat Papua.

Terlepas dari budaya tutur dari Papua ini, cerita di atas merupakan gambaran kenyataan di Papua dan dunia pendidikan. Pagi ini anak saya yang berada di kelas VI SD swasta sedang mengikuti Ujian Sekolah sebagai salah satu syarat kelulusan. Menghadapi kondisi ini, gurunya menampilkan status di aplikasi whatsapp-nya kiranya semua siswa menyiapkan diri agar bisa mengerjakan semua soal dan mendapat nilai yang baik dalam Ujian Sekolah ini.

Nilai menjadi tolok ukur dalam dunia pendidikan yang sebenarnya kompleks dan rumit. Jika guru yang memiliki pemikiran seperti ini mungkin wajar, karena ranah pendidikan yang diemban oleh guru sebagian besar adalah pemahaman peserta didik atas materi ajar. Salah satu indikatornya adalah nilai yang bagus. Dengan demikian (siswa mendapat nilai yang bagus), setiap guru menjaga kualitas sekolahnya. Dan dalam segi bisnis pastinya ini yang diinginkan pihak Yayasan. Akreditasi terjaga, banyak yang mendaftar, otomatis income bertambah. Pola pikir materialis seperti ini, yang mengukur segala sesuatu dengan yang terlihat, sudah menjadi pola pikir umum dan sudah sampai di pola pikir orang tua.

Padahal sewajarnya orang tua yang mengetahui potensi terbaik anaknya di bidang apa dan tidak menjadi kecewa jika si anak tidak mendapat nilai maksimal pada bidang tersebut. Misal: Yaklep adalah anak dengan potensi bermain sepak bola dan kegiatan fisik. Nilai matematika Yaklep hanya 58, namun di atas rata-rata kelas. Sementara nilai olah raganya 94. Dan orang tua Yaklep memaksa Yaklep untuk mendapat nilai 100 di bidang matematika. Kondisi ini juga disadari oleh pihak sekolah. Untuk meningkatkan rata-rata kelas di bidang matematika, sekolah menetapkan matematika menjadi mata pelajaran prioritas, sehingga setiap hari peserta didik mendapat tugas dan PR matematika sepulang dari sekolah. Sehingga anak-anak seperti Yaklep yang menemukan kebahagiaan dengan bermain sepak bola, semakin sulit menemukan waktu bermain sepak bola dan hanya bisa berkhayal bermain sepak bola dalam perjalanan pulang ke rumah.

Bermain menjadi barang mahal dalam dunia pendidikan sekarang ini. Jam sekolah yang padat, dari hari Senin hingga Jumat, dari pagi hingga terkadang sore hari. Hari Sabtu dan Minggu setiap anak memiliki tanggungjawab menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan hari Senin. Jika tidak bisa menyelesaikan tugas, peserta didik dinilai kurang bertanggungjawab atas tugas yang diberikan. Kegiatan ekstra kurikuler sebenarnya dibuat agar seimbang antara belajar dan bermain. Namun untuk beberapa sekolah kegiatan ekstra kurikuler ini masih belum menjadi perhatian, karena memang yang menjadi perhatian dan prioritas sistem pendidikan Indonesia masih berupa nilai di beberapa mata pelajaran yang menjadi indikator keberhasilan tadi.

Peserta didik hanya tahu bahwa untuk menjadi anak yang dibanggakan orang tua dan lingkungannya adalah anak yang memiliki nilai ujian bagus. Nilai dengan total ≥ 80 pasti mendapat pujian, hadiah dan diterima di sekolah yang bagus. Mereka hapal bahwa di Indonesia ada berbagai macam suku bangsa, namun tidak bisa memaknai adat istiadatnya sendiri. Mereka tahu tentang kebebasan berpendapat berada dalam pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 namun tidak paham tentang menghargai perbedaan pendapat, mereka tahu ada enam agama dan satu aliran kepercayaan yang diakui pemerintah tanpa tahu makna toleransi dalam arti sebenarnya, belum lagi tentang kemampuan problem solving yang kerap ditemukan dalam pergaulan dalam lingkup sosial. Minimnya kesempatan untuk bersosialisasi secara fisik dengan lingkungan sosial menjadikan anak semakin apatis, tidak perduli dengan lingkungan sosialnya.

Anak-anak kita terbiasa berjuang mendapatkan nilai yang bagus, dalam dunia kerja, mereka akan berjuang dalam pekerjaan mencapai yang terbaik. Itu baik, lebih baik lagi jika nilai kehidupan bisa mereka seimbangkan dalam pekerjaan mereka. Menghormati orang lain, terbiasa mengucapkan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’, berbicara dan menyampaikan maksud dengan sopan dan tanpa memaksa dan yang paling penting adalah bertakwa kepada Tuhan pencipta semesta.

Untuk mencapai kemampuan memaknai kehidupan ini, pendidikan Indonesia memerlukan sebuah materi tambahan yang merupakan aplikasi dari teori-teori yang diberikan dalam pelajaran. Sebuah program yang berfungsi untuk melatih kemampuan memaknai nilai-nilai kehidupan. Sebuah program yang bertujuan untuk membangun karakter anak didik yang berarti membangun karakter bangsa Indonesia.

Supaya Yaklep dalam cerita di atas lebih mementingkan kemanusiaan ketimbang ego-nya sendiri. Sehingga tidak ada lagi guru-guru yang dibiarkan tenggelam oleh anak-anak Indonesia. (THF/Adm).