Berjalan di tengah jejalan para buruh pada peringatan hari Buruh merupakan sebuah pengalaman yang tidak biasa. Peringatan Hari Buruh tahun ini sangat tidak biasa, para buruh sudah bersiap sejak pagi dengan menggelar tikar terpanjang di jalan utama ibukota Jakarta.

Mereka duduk di atas tikar bersama dengan rekan buruh yang lain. Beberapa pengusaha dari beberapa perusahaan terlihat ada di sela-sela ribuan buruh dan bercanda bersama para buruh tanpa perasaan terancam. Canda mereka terlihat intim layaknya kekasih yang diberi waktu melepas rindu setelah ratusan hari tidak bertemu. Terdengar beberapa kali sentilan manja dari buruh tentang kenaikan upah dan peningkatan kesejahteraan kepada para pengusaha, namun tidak dengan urat bahkan berakhir dengan derai tawa kebahagiaan yang tumpah ruah di atas tikar kenduri ini. Mereka bukan majikan dan buruh di atas tikar itu, mereka adalah mitra yang bekerjasama membangun perusahaan. Para pengusaha juga buruh, hanya beda tingkatan karena pengetahuan dan pengalaman.

Pengemis, pemulung, anak yatim dan kaum marjinal lainnya mereka undang sebagai bentuk ungkapan rasa syukur para buruh. Mereka telah menyisihkan sedikit dari penghasilan mereka untuk menyantuni mereka. Energi positif terbangun dari suasana itu, hati bergetar, lidah kelu karena haru. Baru kali ini hari Buruh terasa penuh kemesraan seperti itu. Mereka telah mempraktekkan ilmu spiritual yang paling tinggi, ikhlas.

Tokoh agama terlihat duduk bersama buruh tanpa khawatir dibilang kafir. Bahkan beberapa kali terlihat mereka memberikan nasihat yang menambah kuatnya energi positif di siang yang panas itu. Nasihat dari ustadz, pastor, pendeta dan bikhu didengar dan dipahami oleh semua yang hadir tanpa memandang agama. Memberikan kesadaran bahwa mereka juga buruh, hanya saja mereka mburuh kepada Allah.

Ah, siang itu terasa teduh.

Pejabat pemerintahan tidak luput dari undangan para buruh ini. Para pejabat pemerintahan diundang sebagai bentuk apresiasi para buruh kepada mitra mereka dalam membangun ekonomi bangsa. Para pejabat pemerintahan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengucapkan banyak terima kasih atas peran buruh terhadap perekonomian, sosial dan martabat bangsa. Para pejabat melakukan orasi mengangkat kebanggaan sebagai buruh. Mereka juga sama-sama buruh, hanya berbeda institusi.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar teriakan,

“Woi.. woi…!”

Teriakan itu terdengar makin keras, sampai mengguncang tubuh ini. Teriakan itu semakin keras dan lantang sampai terasa dekat di telinga.

“Woi.. woi..!”

Aku pun terbangun, suara itu tetap memanggil,

“Woi, bangun lu! Jadi demo gak?”

(adb)

banner: flickr.com